Teh Goro – Goro

SEJARAH TEH

Kata “teh” atau “Tee” atau “Tea” berasal dari bahasa Cina Selatan “te” dari bentukan tschha [lat. Camellia sinensis]. Tumbuhan ini berasal dari Provinsi Assam India dan Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Pohonnya berbentuk semak yang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Daunnya mengandung Alkaloid Koffein yang membawa pengaruh menyegarkan dan menenangkan. Bukti tertulis tentang teh pertama kali ditemukan di Cina pada abad ke 3 sebelum masehi.

Nama botani tanaman teh sendiri mengalami beberapa kali perubahan. Carl von Linné pada tahun 1753, awalnya menamai tumbuhan ini Thea sinensis, tapi kemudian ia memberikan dua jenis nama yang berbeda yaitu Thea bohea dan Thea viridis. Nama botani yang sebenarnya dari tumbuhan ini adalah Camellia sinensis, dan memiliki dua jenis yaitu: Camellia sinensis var. Sinensis (teh Cina) dan Camellia sinensis var. Assamica (teh Assam).

Minuman ini sudah dikenal sejak lima ribu tahun yang lalu dan konon ditemukan secara tidak sengaja oleh Shen Nung, Kaisar Tiongkok yang sangat melegenda berkat pemikiran cemerlangnya tentang pertanian dan pengobatan.

Sang Kaisar meyakini bahwa air yang aman diminum adalah air yang sudah direbus terlebih dahulu. Suatu hari ketika ia sedang merebus air, tiba-tiba ada beberapa lembar daun tak sengaja tercampur ke dalam teko, dan mengubah aroma serta warnanya. Sang Kaisar pun terkesan setelah mencicipi cairan baru yang berwarna merah kecokelatan tersebut. Semenjak itu, teh menjadi bagian dari tradisi Tiongkok, baik sebagai minuman ataupun bahan pengobatan.

Teh dibawa ke Eropa baru pada tahun 1610 oleh perusahaan dagang Asia Timur milik Belanda dan Inggris. Mulai tahun 1610, kapal-kapal dagang Belanda membawa teh dari Jepang dan Cina. Tahun 1669, bangsa Inggris mendirikan East India Company dengan tujuan perdagangan teh. Di awal abad ke-19 para Teeclipper berlayar mengelilingi Afrika menuju Eropa. Saat Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, jarak perjalanan bisa diperpendek sekitar 7000 km.

Rusia mulai mengenal teh pada tahun 1618 setelah penguasanya, Tsar Michael, mendapat hadiah teh dari seorang Kaisar Tiong-kok dinasti Ming. Pada masa itu, teh adalah minuman golongan ningrat dan disajikan dengan peralatan yang sangat mewah. Mulai abad ke-17, teh dibawa lewat jalan darat dari Cina ke Eropa lewat Rusia.

Teh yang dibawa oleh karavan-karavan Rusia kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan teh yang dibawa lewat laut dan sudah tersimpan di ruang lembab dan bau.

Kaum imigran Inggris membawa teh ke New England dan menjadikannya minuman yang digemari, terutama di kalangan masyarakat golongan atas, yang rutin mengadakan Tea Party. Pada tahun 1760 teh menempati posisi ketiga barang yang dieksport ke New England. Ketika Inggris menaikkan pajak teh untuk menutupi krisis keuangan yang melanda negara tersebut setelah perang tujuh tahun, timbul kerusuhan di Amerika sebagai koloni Inggris yang puncaknya terjadi di Boston dan dilakukan oleh orang-orang Freemason yang berpakaian seperti orang Indian Mohikan. Mereka merampok kapal-kapal East India Company yang berlabuh di pelabuhan Boston dan melemparkan 342 peti teh ke laut.

Kejadian yang dalam sejarah dikenal sebagai “Boston Tea Party“ ini menjadi pemicu perang kemerdekaan Amerika pada tahun 1775-1783, di saat Amerika berusaha melepaskan diri dari Inggris.

Teh pun kini sudah sangat mudah dinikmati siapa saja, bukan lagi hanya untuk konsumsi masyarakat kelas atas.


Kisah Shen Nung

Negeri Cina dipercayai sebagai tempat kelahiran tanaman Teh. Kisah yang paling banyak diikuti tentang asal usul Teh, adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum masehi. Kaisar Shen Nung juga disebut sebagai Bapak Tanaman Obat-Obatan Tradisional Cina saat itu. Konon kabarnya, pada suatu hari, ketika sang Kaisar sedang bekerja di salah satu sudut kebunnya, terlebih dahulu ia merebus air dikuali di bawah rindangan pohon. Secara kebetulan, angin bertiup cukup keras dan menggugurkan beberapa helai daun pohon tersebut dan jatuh kedalam rebusan air dan terseduh. Sewaktu sang Kaisar meminum air rebusan tersebut, ia merasa bahwa air yang diminumnya lebih sedap daripada air putih biasa, dan menjadikan badan lebih segar.
Daun yang terseduh kedalam rebusan air sang Kaisar adalah daun Teh. Dan sejak saat itu teh mulai dikenal dan disebarluaskan.

Kisah DARUMA

Bangsa Jepang, memiliki cerita lain tentang Teh yang dikaitkan dengan penyebaran agama Budha oleh seorang pendeta budha bernama Daruma yang hidup sekitar tahun 520 M. Menurut legenda, pohon Teh pertama tumbuh dari potongan kelopak matanya. Hal tersebut terjadi karena sewaktu Daruma sedang bertapa, ia tertidur dan ketika terjaga ia sangat marah karena ia sampai tertidur pada saat bertapa. Untuk mencegah jangan sampai tertidur kembali, maka Daruma memotong kedua belah kelopak matanya dan dibuang ke tempat tak jauh dari dia bertapa. Tidak lama setelah itu, tempat dimana kedua belah kelopak mata Daruma dibuang tumbuhlah pohon yang kita sebut sebagai pohon Teh dan menjadi tanaman Teh pertama versi Bangsa Jepang.

Kisah LU YU

Untuk pertama kalinya pada tahun 780 seorang cendikiawan bernama LU YU mengumpulkan dan membukukan temuan-temuan akan manfaat dan kegunaan Teh kedalam sebuah literatur mengenai Teh, yaitu Ch’a Cing atau The Classic Of Tea.


PENYEBARAN TEH DUNIA

A. Jalur Sutra

Selama masa pemerintahan Dinasti Han Tang Soon dan Yuan, komoditas Teh diperkenalkan ke dunia luar ( dari Cina ) melalui pertukaran kebudayaan menyeberangi Asia Tengah menyelusuri Jalur Sutera.

B. East India Company

Pada tahun 1644, East India Company yaitu perusahaan perdagangan Inggris dibawah pemerintahan Ratu Elizabeth I – membuka kantor di Xiamen. Pada masa itulah, daun Teh dikenal umum sebagai minuman yang diseduh dengan air panas.

Dan tahun 1669, East India company mendapatkan lisensi mendatangkan komoditas Teh dari Cina ke Inggris dengan menggunakan kapal Elizabeth I dan selama sembilan tahun memonopoli perdagangan Teh sampai dengan tahun 1833.

C. Boston Tea Party

Bagian cukup menarik dari kisah perdagangan Teh oleh bangsa Inggris adalah ketika East India Company pada tahun 1773 boleh berdagang Teh langsung dari Cina ke Amerika ( yang pada saat itu masih termasuk ke dalam koloni bangsa Inggris ) dengan memotong jalur perdagangan dan perpajakan yang merugikan exportir Eropa dan Importir Amerika. Peristiwa itu mengakibatkan marahnya penduduk Boston, dan pada saat kapal pengangkut komoditas Teh merapat di pelabuhan Kota Boston, maka serentak penduduk kota tersebut menaiki kapal dan membuang seluruh peti yang berisi komoditas Teh kedalam laut. Peristiwa itu dikenal sebagai BOSTON TEA PARTY yang berakibat pula tercetusnya revolusi Bangsa Amerika terhadap penjajahan bangsa Inggris.

MASUKNYA TEH KE INDONESIA

Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya hanya sebagai tanaman hias.

Baru pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-biji Teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. Usaha tersebut tidak terlalu berhasil dan baru berhasil setelah pada tahun 1824, Dr.Van Siebold, seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang, mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit Teh dari Jepang. Usaha perkebunan Teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stetsel ). Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan Teh diambil alih oleh pemerintah RI. Sekarang, perkebunan dan perdagangan Teh juga dilakukan oleh pihak swasta.


SERBA-SERBI PEKALONGAN

Lambang Kabupaten Pekalongan

Kabupaten Pekalongan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kajen. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa dan Kota Pekalongan di utara, Kabupaten Batang di timur, Kabupaten Banjarnegara di selatan, serta Kabupaten Pemalang di barat.

Pekalongan berada di jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Angkutan umum antarkota dilayani oleh bus dan kereta api

Kabupaten Pekalongan terdiri atas 19 kecamatan, yang dibagi lagi atas 270 desa dan 13 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kajen.

Kajen dulunya merupakan kota kecamatan yang telah dikembangkan menjadi ibukota kabupaten yang baru, menggantikan Pusat Pemerintahan Kabupaten Pekalongan yang berlokasi di Jl. Nusantara Nomor 1 Kota Pekalongan. Kepindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan ke Kajen, dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2001, walaupun SK mendagri sudah diterbitkan pada tahun 1996. Hal ini terkait dengan pembangunan sarana dan prasarana fasilitas pemerintah di Kota Kajen yang dilaksanakan secara bertahap.

GEOGRAFI

Bagian utara Kabupaten Pekalongan merupakan dataran rendah; sedang di bagian selatan berupa pegunungan, bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Dieng. Sungai-sungai besar yang mengalir diantaranya adalah Kali Sragi dan Kali Sengkarang beserta anak-anak sungainya, yang kesemuanya bermuara ke Laut Jawa. Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan, berada di bagian tengah-tengah wilayah kabupaten, sekitar 25 km sebelah selatan Kota Pekalongan.

PARIWISATA

Pekalongan telah lama dikenal sebagai kota batik, dan salah satu pusat produksi batik berada di Kecamatan Buaran dan Wiradesa. Beberapa nama produsen batik yang cukup dikenal diantaranya Batik Humas (singkatan dari Husein Mohammad Assegaff). Sedangkan pabrik sarung (kain palekat) terkenal di Pekalongan antara lain Gajah Duduk dan WadiMoor.

Di bagian selatan terdapat daerah wisata pegunungan Linggo Asri, terletak 37 km sebelah selatan Kota Pekalongan arah Kajen (dari jalan Jakarta-Semarang pertigaan Wiradesa ke selatan atau dari kota Pekalongan arah Buaran), dimana daerah tersebut terdapat pemandian dan taman bermain seta wisata hutan pinus milik Perum Perhutani dan juga terdapat komunitas masyarakat Hindu di Pekalongan.Disini terdapat peninggalan berupa lingga dan yoni yang terletak sekitar 500 meter dari kompleks pemandian linggo asri.

Sebenarnya masih banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Pekalongan, antara lain, Pantai Sunter Depok, Ekowisata Petungkriyono, Wisata Air, Wisata hutan, Wisata budaya dll. Pekalongan masih menunggu investor yang ingin mengembangkan obyek wisata ini.

KESENIAN KABUPATEN PEKALONGAN

Tari Sintren

Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, Sintren adalah sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari.

Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan R. Sulandono.

Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari betul-betul masih dalam keadaan suci (perawan). Sinteren diperankan seorang gaadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak).  Didalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, Si pawang (dalang) sering mengundang Rokh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bilamana hal itu dapat berhasil maka pemain Sintren akan kelihatan lebih cantik dan dalam membawakan tarian lebih lincah dan mempesonakan.

Seni Batik

Batik Pekalongan terkenal di seluruh dunia, diantaranya motif  jlamprang, Cuwiri, Garuda Madep, Galaran. Batik Pekalongan mempunyai ciri tersendiri didalam segi motif ataupun warnanya. Warna atau motif batik Pekalongan banyak berpengaruh gaya dan motif Cina.


KEMASAN TEH GORO-GORO

Pada kemasan Teh Goro-goro terdapat perpaduan budaya antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Perpaduan budaya tersebut dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat pada kemasan.

Pengaruh budaya Jawa dapat terlihat dari penggunaan ilustrasi empat karakter punakawan, antara lain Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Selain itu juga terdapat ilustrasi naga Jawa di kedua sisinya. Berikut adalah keterangan tentang Punakawan:

Punakawan

semar.jpg (10047 bytes) gareng.jpg (10302 bytes)

Semar Gareng

bagong.jpg (8327 bytes) petruk.jpg (11563 bytes)

Bagong Petruk

Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa)

1. Semar adalah pengasuh dari Pendawa. Alkisah, ia juga bernama Hyang Ismaya. Mekipun ia berwujud manusia jelek, ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi bahkan melebihi para dewa.

2. Gareng adalah anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkan dengan memuja. Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kadang- kadang serba salah. Tetapi ia sangat lucu dan menggelikan. Ia pernah menjadi raja di Paranggumiwang dan bernama Pandubergola. Ia diangkat sebagi raja atas nama Dewi Sumbadra. Ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk.

3. Bagong berarti bayangan Semar. Alkisah ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda pada Semar bahwa bayangannyalah yang akan menjadi temannya.

Seketika itu juga bayangannya berubah wujud menjadi Bagong. Bagong itu memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh. Ia juga sangat lucu.

4. Petruk anak Semar yang bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan juga sangat lucu.  Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya. Petruk pernah menjadi raja di negeri Ngrancang Kencana dan bernama Helgeduelbek. Dikisahkan ia melarikan ajimat Kalimasada. Tak ada yang dapat mengalahkannya selain Gareng.

Keterangan tentang ular naga Jawa:

Ular naga bagi petani Jawa adalah makhluk yang dianggap sacral, ular naga ini adalah jelmaan Dewi Sri yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma dalam bentuk ular sawah. Hal ini tertulis dalam serat babad ila-ila disebutkan: Dewi Sri dan Raden Sadhana adalah kakak beradik. Karena mereka tidak mau tinggal di kraton, maka oleh ayahanda nya Prabu Purwacarita meraka dikutuk, Dewi Sri, menjadi ular sawah, dan Raden Sadhana menjadi burung Sriti kemudian mereka pergi entah ke mana.

Perjalaanan Dewi Sri atau ular sawah lebih banyak halangan daripada Redan Sadhana sebagai burung Sriti. Akhirnya ular sawah sampai di negeri Wirata, berhenti sebentar di dusun Wasutira lalu tidur melingkar di tengah-tengah padi. Di dusun Wasutira inilah ular sawah diletakkan di petanen. Ular sawah itu nantinya akan menjaga bayi yang dikandung oleh Ken Sanggi atau istri dari Kyai Brikhu, sebab bayi yang dikandung itu adalah titisan Dewi Tiksnawati. Apabila ular itu mati , maka bayi itu juga akan mati. Demikianlah pada malam hari Ken Sanggi melahirkan anak perempuan dengan selamat.

Maka Kyai Brikhu dalam memelihara ular sawah itu sangat berhati-hati jangan sampai mati. Sewaktu Kyai Brikhu tertidur , ular sawah itu seakan-akan berkata agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus. Setelah kyai Brikhu terbangun dari tidur langsung menyiapkan sesaji seperti apa yang diminta ular sawa tadi. Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh bayi itu membuat huru hara di SBY, tempat kediaman dewa-dewa karena Dewi Tiksnawati tanpa memberi tahu atau ijin dari Sang Hyang Jagadnata.

Sang Hyang Jagadnata menjadi murka dan mengutus para dewa untuk memberi bancana pada sang Bayi. Akan tetapi gagal karena kena pengaruh tolak bala yang diberi kan Kyai Brikhu dari Ular sawa tadi. Setelah beberapa kali gagal tahulah Sang Hyang Jagadnata bahwa semua itu berasal dari Dewi Sri. Kemudian Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru mengutus para bidadari untuk memanggil Dewi Sri. Dia akan dijadikan bidadari untuk melengkapi bidadari yang ada dikhayangan. permintaan Sang Hyang Jagadnata diterima oleh Dewi Sri, akan tetapi ia mohon agar Raden Sadhana yang dikutuk menjadi burung Sriti agar dapat diruwat menjadi manusia kembali.

Ternyata Raden Sadhana telah diruwat menjadi manusia oleh Bagawan Brahmana Marhaesi putra dari Sang Hyang Brahma. Kemudian Raden Sadhana dikawinkan dengan putri yang bernama Dewi Laksmitawahni. Apabila telah berputra, Raden Sadhana akan diangkat menjadi dewa. Kemudian ular sawa diruwat menjadi Dewi Sri kembali oleh para bidadari.

Sepeninggal para bidadari, Kyai Brikhu ketika tengah membersihkan petanen terkejut melihat ular sawa lenyap. Yang ada hanya seorang wanita cantik. Kyai Brikhu akhirnya tau bahwa Dewi Sri adalah putri dari Prabu Mahapunggung dinegeri Purwacarita. Sebelum Dewi Sri meninggalkan Kyai Brikhu dan keluarganya dia berpesan agar memberikan sesajen didepan petanen atau kamar tengah agar sandang pangannya tercukupi.setelah itu Dewi Sri moksa dan juga Raden Sadhana kembali ke khayangan.

Oleh karena itu pada setiap pada sethong tengah pada rumah Jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan, yaitu Dewi Sri yang memberikan kemakmuran. Para petani apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah dijadikan pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik atau banyak rejeki.

Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan memberi sesaji.

Ikan-Naga

Naga adalah salah satu lambang dari keduabelas shio yang ada dalam penanggalan Tionghoa. Naga sebagai mahluk yang mempunyai karma baik dan telah mencapai pembinaan kehidupan spiritual tahap tertentu, karena mereka telah melatih pembinaan spiritual yang sangat lama. Pencapaian spiritual yang lama ini menjadikan kaum naga memperoleh berkah dan kedudukan yang terhormat.

Di Indonesia, Ikan-Naga ini banyak dijumpai di daerah pantai selatan pulau jawa, karena berkah yang dimiliki Ikan-Naga ini maka banyak penduduk setempat menghormati Ikan-Naga agar dapat diberikan hasil ikan yang berlimpah dan bebas dari wabah penyakit menular.

Ikan-Naga yang melanjutkan meditasi selama 500 tahun hingga 1000 tahun, akan berubah menjadi Naga Tanpa Tanduk. Seluruh tubuhnya sempurna menjadi naga, dengan warna yang menyerupai biru kehijauan.

Walaupun ada juga yang telah mempunyai tanduk, tetapi tanduk dikepalanya masih sangat kecil sekali.

Naga tanpa tanduk ini banyak di jumpai dalam hiasan kerajaan-kerajaan di tanah jawa pada masa lampau. Dimana energi yang terpancar dari naga tanpa tanduk dapat menambah pamor dan wibawa dari tempat yang di diaminya.

Maksud dari kemasan Teh Goro-goro mengambil ilustrasi naga pada kemasannya memiliki tujuan sesuai dengan arti dari naga yang memiliki karma baik dan membawa berkah bagi produsen Teh Goro-goro disamping untuk menggabungkan budaya Tionghoa dan budaya Jawa.

definisi goro-goro dalam cerita wayang kulit

Pada pagelaran wayang, ada scene yang namanya goro-goro yang menampilkan punakawan sebagai selingan dari konflik-konflik pada babak sebelumnya.

Setelah sekian jam disuguhi segala macam konflik, maka yang sangat ditunggu-tunggu penonton wayang adalah goro-goro. Babak ini jadi semacam ritus pembukaan katub ketegangan yang berkumpul pada babak-babak sebelumnya. Ketegangan yang dimaksud bisa merupakan ketegangan-ketegangan dalam lakon wayang ini sendiri, bisa juga berasal dari proses pementasan itu sendiri.

Juga dalam babak ini semua tokoh yang telibat dalam pementasan (termasuk penonton) mendapat citra pembebasan. Sudah pasti salah satunya adalah pembebasan dari ketegangan psikologis. Alat yang dipakai dalam goro-goro sebagai pembawa citra pembebasan adalah kritik. Bahkan boleh jadi kritik bukan lagi sejenis alat yang ‘sunnah’ dalam goro-goro, melainkan ‘wajib’ hukumnya. Ini wajar saja. Sebab secara fenomenologis kritik merupakan satu-satunya kegiatan manusia yang dilakukan selalu dengan tujuan progresif.

Tanpa kritik, manusia menyentuh titik absurd hidupnya. Sebagai pelepas ketegangan, kritik dalam goro-goro mendapat pulasan yang khas. Kritik diberi nuansa tawa yang agak dominan. Seseriua apapun sebuah kritik dalam babak tersebut sangat jarang mampu membuat muka merah padam karena amarah. Segala kritik terlontar masuk ke dalam suasana gembira dan bercanda.

Kritik gaya goro-goro muncul dari dan ke sikap lapang dada. Oleh karenanya banyak orang di republik ini sepakat untuk menjadikan goro-goro sebagai patron bentuk penyampaian kritik yang layak kultural dalam kehidupan sosial politik. Goro-goro menyajikan kritik yang tahu tata rama, bukan kritik asal pedas.

Bisa dibayangkan, apa jadinya jagat pewayangan tanpa babak goro-goro? Tanpa goro-goro, bukan semat-mata berarti bahwa penonton kehilangan kesempatan untuk melepaskan ketegangan.


UNSUR-UNSUR KRITIK DESAIN

TEH GORO-GORO

A. Formalistik

Ukuran Kemasan:

21.3 cm

19.7 cm

Warna :

Merah

Kuning

Hijau

Biru

Hitam

B. Ekspresifistik

Kemasan teh ini berkesan tradisional, dengan menggunakan warna-warna primer pada gambarnya sehingga memudahkan untuk dikenali masyarakat.

C. Instrumentalistik

Goro-goro sebagai nama produk teh ini memiliki arti ‘suatu babak dalam pewayangan’. Pada kemasan Teh Goro-goro terdapat perpaduan budaya antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Perpaduan budaya tersebut dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat pada kemasan.

Pengaruh budaya Jawa juga terlihat dari penggunaan ilustrasi empat karakter punakawa. Selain itu juga terdapat ilustrasi naga Jawa di kedua sisinya.


TAHAP-TAHAP KRITIK DESAIN TEH GORO-GORO

A. Tahap Deskripsi

Pada kemasan ini terdapat gambar Punakawan yang terdiri dari Semar, Bagong, Gareng dan Petruk. Dengan ornamen naga di kedua sisi gambar Punakawan. Terdapat gambar api di latar belakangnya, dan ada pula foto orangtua yang dikelililngi oleh tanaman di sisi lainnya. Terdapat gulungan perkamen dengan tulisan “Goro-goro” istimewa. Lalu disekeliling perkamen ini terdapat sulur-sulur tanaman.

B. Tahap Analisa Formal

Layout kemasan Teh Goro-goro hanya menggunakan warna primer seperti merah, kuning, biru, hijau, dan hitam yang sering juga dijumpai dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan untuk komposisi layout dalam kemasannya sendiri terlihat proporsoinal karena penempatan merek Goro-goro di bagian tengah. Dan tulisan Teh diletakkan di sebelah kiri atas untuk menigsi bidang kosong, sehingga seimbang antara kanan dan kiri.

C. Tahap Interpretasi

Pada kemasan Teh Goro-goro terdapat perpaduan budaya antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Perpaduan budaya tersebut dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat pada kemasan. Pengaruh budaya Jawa dapat terlihat dari penggunaan ilustrasi empat karakter punakawan, antara lain Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Selain itu juga terdapat ilustrasi naga Jawa di kedua sisinya. Teh ini bernuansa Jawa-Tionghoa karena pendirinya adalah orang Tionghoa, yang fotonya dicantumkan pada kemasan ini.

Penggunaan gambar wayang pada kemasan Teh Goro-goro ini dikarenakan teh ini berasal dari daerah Jawa. Daerah Jawa seperti yang kita ketahui, terkenal dengan wayang.

Pada kemasan ini juga menggunakan gambar naga Jawa yang bermakna kemakmuran. Bagi orang Tionghoa, naga sendiri bermakna kekuasaan. Bahwa pendiri Teh Goro-goro ini berharap menjadi produsen teh terbesar di daerah itu.

Penggunaan warna merah dan kuning pada kemasan ini karena pengaruh dari budaya Tionghoa. Pada sekeliling tepi foto terdapat ornamen tanaman yang kami tafsirkan sebagai tanaman teh.

Penggunaan kertas sebagai bahan pembungkusnya dimaksudkan untuk menjaga kelembaban teh di dalamnya agar selalu kering. Dan dimaksudkan agar konsumen dapat langsung mencium aroma teh ini tanpa menghilangkan cita rasa teh Goro-goro ini.

D. Tahap Evaluasi

Teh Goro – Goro

Dilihat dari desainnya, kemasan Teh Goro-goro masih sangat tradisional. Namun, desain kemasan ini tidak dapat dibilang sederhana karena tergolong rumit dengan gambar yang masih ilustratif dan rumit dengan banyak detail seperti sisik naga dan motif batik pada Punakawan yang digambar dengan teliti serta penggunaan warna yang beraneka ragam. Peran dari perpaduan antara desain budaya Tionghoa dan budaya Jawa pada kemasan ini sendiri ditujukan agar teh yang asalnya dari Daratan Cina dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat Jawa. Teh Goro-goro juga memiliki sejarah yang panjang dilihat dari foto pendiri yang sudah tua.

Pembanding

1. Teh Cap Dandang

Desain kemasan Teh Cap Dandang ini sudah mengalami modernisasi walaupun hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari tipografi yang digunakan dan desainnya sendiri sudah tidak rumit. Tetapi, masih bisa dilihat kesan tradisional dari kemasan yang digunakan, yaitu bungkusannya yang masih terbuat dari kertas. Desain yang sudah modern dan universal tersebut mengakibatkan meluasnya terget pasar, sehingga lebih bisa diterima oleh masyarakat. Namun, ada satu hal yang dilupakan oleh produsen Teh Cap Dandang ini, yaitu ketidaksesuaian gambar dengan mereknya. Tidak seperti Teh Goro-goro yang ilustrasinya menggambarkan arti dari Goro-goro, teh ini tidak menampilkan gambar dandang sesuai dengan mereknya, yaitu “Teh Cap Dandang”.

2. Teh Bandulan

Teh bandulan memiliki desain yang masih ilustratif seperti Teh Goro-goro. Namun dari warnanya, Teh Goro-goro memiliki lebih banyak warna daripada Teh Bandulan, yaitu enam warna. Sedangkan Teh Bandulan hanya memiliki tiga warna dengan dominasi warna putih dari kertas pembungkusnya sehingga tidak eye – cathcing. Gambarnya sendiri cukup mewakili arti dari bandulan itu sendiri. Tipografi yang digunakanpun masih sangat tradisional. Dilihat dari desainnya, target pasar dari Teh Bandulan ini yaitu menengah ke bawah dengan rentang usia 20 sampai 30 tahunan.


KESIMPULAN

Teh Goro–goro dibandingkan dengan dua pesaingnya, Teh Cap Dandang dan Teh Bandulan, meiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri dalam desainnya.

Kelebihan desain Teh Goro-goro:

· Desainnya tradisional namun bagus dan ada kesan tersendiri dalam desain tersebut.

· Ilustrasinya bagus dengan detail – detail yang menarik dan terlihat jelas.

· Meskipun warna yang digunakan adalah warna – warna primer, namun terkesan kuat dan memiliki keharmonisasian satu dan yang lainnya.

· Nama logo dengan ilustrasinya sesuai sehingga terkesan tidak asal dalam memilih logo.

Kekurangan desain Teh Goro-goro:

· Ilustrasinya terlalu ramai.

· Ada beberapa gambar yang sulit dimengerti oleh masyarakat awam.

· Design kemasannya kurang komersil.

Secara keseluruhan, teh Goro-goro ini mempunyai campuran budaya yang kental sekali antara budaya Cina dan Jawa. Terlihat pada gambar ilustrasi kemasannya yang menggabungkan kedua unsur budaya tersebut.

Tujuan produsen teh ini menggunakan ilustrasi naga adalah untuk menggambarkan bahwa produsen ini berupaya untuk menjadi produsen terkuat dan terbesar di daerah Pekalongan.

Alasan adanya perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa pada ilustrasi kemasan teh Goro-goro ini bertujuan untuk memasarkan teh yang pada awalnya berasal dari Cina, kepada masyarakat Indonesia, terutama di daerah Jawa. Dimaksudkan agar masyarakat Indonesia familiar dengan produk ini.


DAFTAR PUSTAKA

Adityawan S., Arief., Tinjauan Desain: Dari Revolusi Industri Hingga Posmoderen, Jakarta: Universitas Tarumanagara UPT Penerbitan, 1999

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pekalongan

http://www.sosro.com/indonesia/sejarah_teh.htm

www.kotapekalongan.go.id

http://warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=1

http://www.soulcast.com/post/show/5212/Dewi-SRI—dewi-kesuburan

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Wayang/contents/punakawan.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: