Pameran Jakarta 32 derajat Celcius

Ke Depan Tiga Langkah

Restu Ratnaningtyas
Koordinator Artistik Jakarta 32oC-2008

Dalam pameran mahasiswa Jakarta 32oC yang ketiga ini jumlah karya yang masuk sebelum melewati proses seleksi adalah 173 karya, oleh mahasiswa yang berasal dari 16 perguruan tinggi Jakarta. Dan karya yang lolos seleksi adalah 40 karya, terdiri dari lukisan, patung, fotografi, desain grafis, grafis murni, instalasi, video.

Berbicara tentang Jakarta, pasti pikiran kita akan langsung tertuju pada masalah universal yang terjadi di kota-kota besar pada umumnya, seperti: kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk, kebersihan lingkungan, sistem pemerintahan, konsumerisme, kemiskinan, kriminalitas dan sebagainya. Seringkali ketika melihat sebuah karya mengenai kota Jakarta, saya merasa seperti dihadapkan kepada sebuah halaman depan surat kabar metropolitan. Akan tetapi dalam pameran Jakarta 32oC pada kali ini karya-karya yang ditampilkan adalah karya yang lebih bersifat personal, yang kemudian dibagi kedalam empat subtema yaitu: ruang, identitas, sejarah, dan budaya massa.

Dalam proses kurasi oleh tim artistik, apek penilaian karya dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu: visual, teknik, dan tema. Banyak karya yang menarik secara visual tetapi lemah dalam konsep dan keterkaitannya dengan tema Jakarta atau sebaliknya; ide tema menarik namun lemah secara teknis dan visual. Beberapa mahasiswa yang karyanya tidak lolos dalam pengkurasian tetapi memiliki potensi, diundang untuk ikut serta dalam program workshop.

Dalam pameran Jakarta 32oC kali ini, identitas merupakan tema yang paling banyak diangkat dalam karya-karya yang dipamerkan kali ini. Tema identitas selalu menarik untuk dibahas dalam sebuah karya dan seakan tidak akan pernah ada habisnya. Baik mencakup masalah identitas personal maupun identitas kelompok.

Hanya ada dua karya dalam pameran Jakarta 32oC yang mengangkat tema sejarah dan semua berupa karya video mengenai tokoh musik dalam sejarah. Padahal berbicara mengenai sejarah sangat banyak hal menarik di Jakarta yang dapat dijadikan ide untuk membuat sebuah karya, terutama menyangkut kisah hidup seseorang secara personal.

Masalah ruang yang diangkat oleh sebagian besar karya adalah mengenai semakin berkurangnya ruang untuk bergerak babas dengan nyaman di Jakarta pada saat ini. Bahwa tidak mudah mendapatkan ruang yang nyaman apalagi dengan gratis. Oleh sebab itu banyak ruang-ruang di Jakarta yang kemudian mengalami disfungsi dan multifungsi, seperti: halte yang juga menjadi tempat tinggal, mini market 24 jam yang menjadi tempat tongkrongan anak muda, trotoar yang menjadi tempat berdagang kaki lima, jalanan dan taman kota yang pada waktu malam menjadi tempat prostitusi, dan sebagainya. Jakarta adalah kota metropolis yang semua aktivitasnya berlangsung secara cepat, sehingga banyak ruang-ruang yang sifatnya sementara/temporer dan ruang-ruang transit. Beberapa karya lain membicarakan ruang dengan menggunakan media ruang itu sendiri. Mengkritisi sistem tata kota dengan merespon ruang sehingga ruang tersebut menjadi sebuah subjek sekaligus objek. Terlihat seperti bermain-main, namun jika ditelusuri lebih dalam maka masalah yang diangkat sebenarnya amat luas.

Cara penyebaran karya di ruang publik dan bersifat massal telah mengembangkan pemahaman masyarakat akan media seni alternatif di ruang publik juga menguatkan keterikatan perupa dengan medium beserta ruang yang digunakan yaitu kota.

Semua tema ini kemudioan menjadi saling erat keterkaitannya, terutama denga budaya massa. Sebuah subkultur yang sudah lama ada di Jakartadan kini semakin bermunculan di tengah aktivitas kota Jakarta. Salah satunya adalah kelompok/komunitas seni rupa yang lahir di wilayah kampus. Adalah fakta yang terjadi bahwa semua komunitas/kelompok yang melakukan kegiatan tersebut bukan terbentuk akibat aktivitas akademik di dalam infrastruktur kampus, melainkan karena nongkrong-nongkrong di sekitar kampus. Tidak banyak perkembangan yang terjadi di dalam sistem pendidikan dalam wilayah kampus khususnya dalam wilayah seni rupa (khususnya di Jakarta).

Dan banyak sekali komunitas berkesenian yang menunjukkan eksistensinya meramaikan hingga mengadakan event-event seni rupa. Seperti kelompok-kelompok street art, baik yang bermain dengan media graffiti, stensil, stiker dan poster. Saat ini juga ada beberapa produk yang melakukan promosinya bekerjasama dengan seniman street art hingga membuat produk featuring seniman. Seni Rupa kini menjadi tidak terlalu eksklusif, terutama ketika sebuah karya seni diproduksi secara massal dan diletakkan di ruang publik.

Terdapat 8 seniman muda ibukota yang turut serta dalam presentasi khusus; sebuah program yang selalu ada dalam event Jakarta 32oC. Hampir semua seniman yang diundang dalam program ini pernah terlibat dalam forum Jakarta 32oC sebelumnya. Senimantersebut dipilih dengan pertimbangan kualitas karya, medium yang digunakan dalam membuat karya dan intensitas mereka dalam berkesenian.

Percepatan arus informasi dan kemajuan teknologi telah menyebabkan terciptanya kultur global dan dengan didukung oleh kemajuan teknologi, sebuah karya dapat diperbanyak secara massive dan kemudian disebarkan melalui ruang-ruang publik di kota besar maupun ruang-ruang maya (website/blog). Terjadi perubahan pola pikir yang mempengaruhi proses dalam pembuatan karya, pencarian ide, maupun cara penyampaian karya. Inilah realitas yang sedang terjadi. Masyarakat adalah produk dari suatu zaman, yang selalu beradaptasi mengikuti habitatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: