bauhaus

Bauhaus berasal dari kata Bauen ( to build/mengembangkan atau membangun) dan haus adalah rumah,bauhaus dikenal dengan “house of building” atau “building school”. Berdirinya Bauhaus adalah ketika Jerman masih mengalami keresahan sosial-ekonomi akibat perang dunia pertama.

Tahun 1917 Walter Gropius juga menyatakan bahwa para intelektual harus melakukan perpindahan atau pergantian front, dari medan pertempuran fisik menuju medan pertempuran budaya. Walter Gropius, seorang arsitek yg pernah bekerja di bawah Peter Behrens, menganggap sistem Werkbund Jerman ketinggalan jaman sehingga perlu reformasi pendidikan seni rupa. Ketika perang usai Gropius mengirimkan proposal sebuah perombakan pendidikan dan sekolah seni rupa yang disetujui oleh pemerintah pada saat itu.bermula dari definisi sebuah impian yaitu “membangun untuk masa depan”, merupakan sebuah sekolah di Jerman yang mengkombinasikan kriya dan seni murni, dan sebagai jalan untuk mengajar dan menyebarkan desain.

Gropius menjelaskan tentang tujuan sekolah ini: seniman dan keriyawan bekerjasama untuk menciptakan “bangunan masa depan”. Gaya Bauhaus merupakan salah satu aliran yang paling berpengaruh dalam modernist architecture dan desain moderen.

Secara singkat dapat disebutkan beberapa prinsip yang berlaku dalam pengajaran Bauhaus:
– dipengaruhi seni ekspresionisme
– mengunakan garis Bauhutte
– menggabungkan seni dan kriyawan
– pendekatan rasionalisme dan desain untuk mesin

Bauhaus memiliki cita-cita utopia membangun masyarakat spiritual baru.

Para pendesain yang pernah menjadi direktur Bauhaus:
Walter Gropius (memimpin hingga 1928), Johannes Itten, L. Mies Van der Rohe (1886-1969).

Van der Rohe terkenal dengan diktum/ ungkapan: “less is more”. Ide-ide baru diajarkan ketika Paul Klee dan Vassily Kandinsky mengajar di Bauhaus tahun 1920 dan 1922. Klee menggabungkan seni moderen dengan seni primitif dan gambar anak dalam menciptakan dan lukisan yang mempengaruhi komunikasi visual. Menurut Kandinsky warna dan bentuk memiliki nilai-nilai spiritual dan makna tersendiri. Tokoh pengajar lain adalah Johannes Itten. Itten-lah yang pertama kali menerapkan metode khusus dasar (preliminary course) bagi para siswa Bauhaus yang sebagaimana yang kini banyak diterapkan dalam pendidikan tinggi desain. Pada tahun 1923 Itten keluar dari Bauhaus karena adanya perbedaan pendapat dengan Gropius. Metode yang diajarkan Itten dianggap tidak sesuai dengan prinsip Bauhaus yang menitikberatkan pada rasionalisme dan desain untuk mesin. Bauhaus cenderung pada bahasa rupa dalam desain yang obyektif (prinsip moderenisme) dan menolak metode pendekatan yang subyektif dan selera pribadi. Tahun 1923, Bauhaus beraksi dengan mengubah program, dimana image masa depan memiliki motto : “teknologi dan seni sebagai kesatuan baru”.

Lazlo Moholy-Nagy terkenal dengan desain yang memanfaatkan tipografi dengan cermat: “Tipografi adalah alat komunikasi, harus berkomunikasi dalam bentuk yang paling kuat”. “Kejelasan (clarity) sangat penting”. Legibility (tingkat keterbacaan) juga menjadi perhatian Moholy-Nagy selain juga menciptakan bahasa tipografi yang lentur.

Jan Tshichold (1902-1974) terkenal dengan buku-buku mengenai dasar-dasar desain tipografi yang berjudul :
– “Elementare Typographie” tahun 1925
– “Die Neue Typographie” tahun 1928
Beberapa pemikiriannya mengenai tipografi adalah:
– Susunan huruf asimetris
– Huruf sans serif dengan ukuran dan berat (ketebalan) yang berbeda: kembali pada bentuk dasar alfabet.
– Susunan desain vertikal/horisontal.

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa jasa terbesar Bauhaus adalah:
1. menciptakan metode pendidikan seni rupa, desain, kriya dan arsitektur yang terpadu.
2. memberi bentuk yang lebih jelas mengenai apa dan bagaimana desain moderen (yang kemudian terkenal dengan “international style”.

referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Bauhaus
http://www.bauhaus.de/english/bauhausarchiv/index.htm
http://www.bauhaus.de/english/bauhaus1919/index.htm
http://luciensteil.tripod.com/newarchitecteducation
Adityawan S., Arief, Tinjauan Desain dari Revolusi Industri hingga Posmederen, Jakarta, Universitas Tarumanagara UPT Penerbitan, 1999, hal 57-63

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: