Teh Goro – Goro

SEJARAH TEH

Kata “teh” atau “Tee” atau “Tea” berasal dari bahasa Cina Selatan “te” dari bentukan tschha [lat. Camellia sinensis]. Tumbuhan ini berasal dari Provinsi Assam India dan Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Pohonnya berbentuk semak yang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Daunnya mengandung Alkaloid Koffein yang membawa pengaruh menyegarkan dan menenangkan. Bukti tertulis tentang teh pertama kali ditemukan di Cina pada abad ke 3 sebelum masehi.

Nama botani tanaman teh sendiri mengalami beberapa kali perubahan. Carl von Linné pada tahun 1753, awalnya menamai tumbuhan ini Thea sinensis, tapi kemudian ia memberikan dua jenis nama yang berbeda yaitu Thea bohea dan Thea viridis. Nama botani yang sebenarnya dari tumbuhan ini adalah Camellia sinensis, dan memiliki dua jenis yaitu: Camellia sinensis var. Sinensis (teh Cina) dan Camellia sinensis var. Assamica (teh Assam).

Minuman ini sudah dikenal sejak lima ribu tahun yang lalu dan konon ditemukan secara tidak sengaja oleh Shen Nung, Kaisar Tiongkok yang sangat melegenda berkat pemikiran cemerlangnya tentang pertanian dan pengobatan.

Sang Kaisar meyakini bahwa air yang aman diminum adalah air yang sudah direbus terlebih dahulu. Suatu hari ketika ia sedang merebus air, tiba-tiba ada beberapa lembar daun tak sengaja tercampur ke dalam teko, dan mengubah aroma serta warnanya. Sang Kaisar pun terkesan setelah mencicipi cairan baru yang berwarna merah kecokelatan tersebut. Semenjak itu, teh menjadi bagian dari tradisi Tiongkok, baik sebagai minuman ataupun bahan pengobatan.

Teh dibawa ke Eropa baru pada tahun 1610 oleh perusahaan dagang Asia Timur milik Belanda dan Inggris. Mulai tahun 1610, kapal-kapal dagang Belanda membawa teh dari Jepang dan Cina. Tahun 1669, bangsa Inggris mendirikan East India Company dengan tujuan perdagangan teh. Di awal abad ke-19 para Teeclipper berlayar mengelilingi Afrika menuju Eropa. Saat Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, jarak perjalanan bisa diperpendek sekitar 7000 km.

Rusia mulai mengenal teh pada tahun 1618 setelah penguasanya, Tsar Michael, mendapat hadiah teh dari seorang Kaisar Tiong-kok dinasti Ming. Pada masa itu, teh adalah minuman golongan ningrat dan disajikan dengan peralatan yang sangat mewah. Mulai abad ke-17, teh dibawa lewat jalan darat dari Cina ke Eropa lewat Rusia.

Teh yang dibawa oleh karavan-karavan Rusia kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan teh yang dibawa lewat laut dan sudah tersimpan di ruang lembab dan bau.

Kaum imigran Inggris membawa teh ke New England dan menjadikannya minuman yang digemari, terutama di kalangan masyarakat golongan atas, yang rutin mengadakan Tea Party. Pada tahun 1760 teh menempati posisi ketiga barang yang dieksport ke New England. Ketika Inggris menaikkan pajak teh untuk menutupi krisis keuangan yang melanda negara tersebut setelah perang tujuh tahun, timbul kerusuhan di Amerika sebagai koloni Inggris yang puncaknya terjadi di Boston dan dilakukan oleh orang-orang Freemason yang berpakaian seperti orang Indian Mohikan. Mereka merampok kapal-kapal East India Company yang berlabuh di pelabuhan Boston dan melemparkan 342 peti teh ke laut.

Kejadian yang dalam sejarah dikenal sebagai “Boston Tea Party“ ini menjadi pemicu perang kemerdekaan Amerika pada tahun 1775-1783, di saat Amerika berusaha melepaskan diri dari Inggris.

Teh pun kini sudah sangat mudah dinikmati siapa saja, bukan lagi hanya untuk konsumsi masyarakat kelas atas.


Kisah Shen Nung

Negeri Cina dipercayai sebagai tempat kelahiran tanaman Teh. Kisah yang paling banyak diikuti tentang asal usul Teh, adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum masehi. Kaisar Shen Nung juga disebut sebagai Bapak Tanaman Obat-Obatan Tradisional Cina saat itu. Konon kabarnya, pada suatu hari, ketika sang Kaisar sedang bekerja di salah satu sudut kebunnya, terlebih dahulu ia merebus air dikuali di bawah rindangan pohon. Secara kebetulan, angin bertiup cukup keras dan menggugurkan beberapa helai daun pohon tersebut dan jatuh kedalam rebusan air dan terseduh. Sewaktu sang Kaisar meminum air rebusan tersebut, ia merasa bahwa air yang diminumnya lebih sedap daripada air putih biasa, dan menjadikan badan lebih segar.
Daun yang terseduh kedalam rebusan air sang Kaisar adalah daun Teh. Dan sejak saat itu teh mulai dikenal dan disebarluaskan.

Kisah DARUMA

Bangsa Jepang, memiliki cerita lain tentang Teh yang dikaitkan dengan penyebaran agama Budha oleh seorang pendeta budha bernama Daruma yang hidup sekitar tahun 520 M. Menurut legenda, pohon Teh pertama tumbuh dari potongan kelopak matanya. Hal tersebut terjadi karena sewaktu Daruma sedang bertapa, ia tertidur dan ketika terjaga ia sangat marah karena ia sampai tertidur pada saat bertapa. Untuk mencegah jangan sampai tertidur kembali, maka Daruma memotong kedua belah kelopak matanya dan dibuang ke tempat tak jauh dari dia bertapa. Tidak lama setelah itu, tempat dimana kedua belah kelopak mata Daruma dibuang tumbuhlah pohon yang kita sebut sebagai pohon Teh dan menjadi tanaman Teh pertama versi Bangsa Jepang.

Kisah LU YU

Untuk pertama kalinya pada tahun 780 seorang cendikiawan bernama LU YU mengumpulkan dan membukukan temuan-temuan akan manfaat dan kegunaan Teh kedalam sebuah literatur mengenai Teh, yaitu Ch’a Cing atau The Classic Of Tea.


PENYEBARAN TEH DUNIA

A. Jalur Sutra

Selama masa pemerintahan Dinasti Han Tang Soon dan Yuan, komoditas Teh diperkenalkan ke dunia luar ( dari Cina ) melalui pertukaran kebudayaan menyeberangi Asia Tengah menyelusuri Jalur Sutera.

B. East India Company

Pada tahun 1644, East India Company yaitu perusahaan perdagangan Inggris dibawah pemerintahan Ratu Elizabeth I – membuka kantor di Xiamen. Pada masa itulah, daun Teh dikenal umum sebagai minuman yang diseduh dengan air panas.

Dan tahun 1669, East India company mendapatkan lisensi mendatangkan komoditas Teh dari Cina ke Inggris dengan menggunakan kapal Elizabeth I dan selama sembilan tahun memonopoli perdagangan Teh sampai dengan tahun 1833.

C. Boston Tea Party

Bagian cukup menarik dari kisah perdagangan Teh oleh bangsa Inggris adalah ketika East India Company pada tahun 1773 boleh berdagang Teh langsung dari Cina ke Amerika ( yang pada saat itu masih termasuk ke dalam koloni bangsa Inggris ) dengan memotong jalur perdagangan dan perpajakan yang merugikan exportir Eropa dan Importir Amerika. Peristiwa itu mengakibatkan marahnya penduduk Boston, dan pada saat kapal pengangkut komoditas Teh merapat di pelabuhan Kota Boston, maka serentak penduduk kota tersebut menaiki kapal dan membuang seluruh peti yang berisi komoditas Teh kedalam laut. Peristiwa itu dikenal sebagai BOSTON TEA PARTY yang berakibat pula tercetusnya revolusi Bangsa Amerika terhadap penjajahan bangsa Inggris.

MASUKNYA TEH KE INDONESIA

Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya hanya sebagai tanaman hias.

Baru pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-biji Teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. Usaha tersebut tidak terlalu berhasil dan baru berhasil setelah pada tahun 1824, Dr.Van Siebold, seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang, mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit Teh dari Jepang. Usaha perkebunan Teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stetsel ). Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan Teh diambil alih oleh pemerintah RI. Sekarang, perkebunan dan perdagangan Teh juga dilakukan oleh pihak swasta.


SERBA-SERBI PEKALONGAN

Lambang Kabupaten Pekalongan

Kabupaten Pekalongan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kajen. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa dan Kota Pekalongan di utara, Kabupaten Batang di timur, Kabupaten Banjarnegara di selatan, serta Kabupaten Pemalang di barat.

Pekalongan berada di jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Angkutan umum antarkota dilayani oleh bus dan kereta api

Kabupaten Pekalongan terdiri atas 19 kecamatan, yang dibagi lagi atas 270 desa dan 13 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kajen.

Kajen dulunya merupakan kota kecamatan yang telah dikembangkan menjadi ibukota kabupaten yang baru, menggantikan Pusat Pemerintahan Kabupaten Pekalongan yang berlokasi di Jl. Nusantara Nomor 1 Kota Pekalongan. Kepindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan ke Kajen, dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2001, walaupun SK mendagri sudah diterbitkan pada tahun 1996. Hal ini terkait dengan pembangunan sarana dan prasarana fasilitas pemerintah di Kota Kajen yang dilaksanakan secara bertahap.

GEOGRAFI

Bagian utara Kabupaten Pekalongan merupakan dataran rendah; sedang di bagian selatan berupa pegunungan, bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Dieng. Sungai-sungai besar yang mengalir diantaranya adalah Kali Sragi dan Kali Sengkarang beserta anak-anak sungainya, yang kesemuanya bermuara ke Laut Jawa. Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan, berada di bagian tengah-tengah wilayah kabupaten, sekitar 25 km sebelah selatan Kota Pekalongan.

PARIWISATA

Pekalongan telah lama dikenal sebagai kota batik, dan salah satu pusat produksi batik berada di Kecamatan Buaran dan Wiradesa. Beberapa nama produsen batik yang cukup dikenal diantaranya Batik Humas (singkatan dari Husein Mohammad Assegaff). Sedangkan pabrik sarung (kain palekat) terkenal di Pekalongan antara lain Gajah Duduk dan WadiMoor.

Di bagian selatan terdapat daerah wisata pegunungan Linggo Asri, terletak 37 km sebelah selatan Kota Pekalongan arah Kajen (dari jalan Jakarta-Semarang pertigaan Wiradesa ke selatan atau dari kota Pekalongan arah Buaran), dimana daerah tersebut terdapat pemandian dan taman bermain seta wisata hutan pinus milik Perum Perhutani dan juga terdapat komunitas masyarakat Hindu di Pekalongan.Disini terdapat peninggalan berupa lingga dan yoni yang terletak sekitar 500 meter dari kompleks pemandian linggo asri.

Sebenarnya masih banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Pekalongan, antara lain, Pantai Sunter Depok, Ekowisata Petungkriyono, Wisata Air, Wisata hutan, Wisata budaya dll. Pekalongan masih menunggu investor yang ingin mengembangkan obyek wisata ini.

KESENIAN KABUPATEN PEKALONGAN

Tari Sintren

Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, Sintren adalah sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari.

Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan R. Sulandono.

Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari betul-betul masih dalam keadaan suci (perawan). Sinteren diperankan seorang gaadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak).  Didalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, Si pawang (dalang) sering mengundang Rokh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bilamana hal itu dapat berhasil maka pemain Sintren akan kelihatan lebih cantik dan dalam membawakan tarian lebih lincah dan mempesonakan.

Seni Batik

Batik Pekalongan terkenal di seluruh dunia, diantaranya motif  jlamprang, Cuwiri, Garuda Madep, Galaran. Batik Pekalongan mempunyai ciri tersendiri didalam segi motif ataupun warnanya. Warna atau motif batik Pekalongan banyak berpengaruh gaya dan motif Cina.


KEMASAN TEH GORO-GORO

Pada kemasan Teh Goro-goro terdapat perpaduan budaya antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Perpaduan budaya tersebut dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat pada kemasan.

Pengaruh budaya Jawa dapat terlihat dari penggunaan ilustrasi empat karakter punakawan, antara lain Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Selain itu juga terdapat ilustrasi naga Jawa di kedua sisinya. Berikut adalah keterangan tentang Punakawan:

Punakawan

semar.jpg (10047 bytes) gareng.jpg (10302 bytes)

Semar Gareng

bagong.jpg (8327 bytes) petruk.jpg (11563 bytes)

Bagong Petruk

Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa)

1. Semar adalah pengasuh dari Pendawa. Alkisah, ia juga bernama Hyang Ismaya. Mekipun ia berwujud manusia jelek, ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi bahkan melebihi para dewa.

2. Gareng adalah anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkan dengan memuja. Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kadang- kadang serba salah. Tetapi ia sangat lucu dan menggelikan. Ia pernah menjadi raja di Paranggumiwang dan bernama Pandubergola. Ia diangkat sebagi raja atas nama Dewi Sumbadra. Ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk.

3. Bagong berarti bayangan Semar. Alkisah ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda pada Semar bahwa bayangannyalah yang akan menjadi temannya.

Seketika itu juga bayangannya berubah wujud menjadi Bagong. Bagong itu memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh. Ia juga sangat lucu.

4. Petruk anak Semar yang bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan juga sangat lucu.  Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya. Petruk pernah menjadi raja di negeri Ngrancang Kencana dan bernama Helgeduelbek. Dikisahkan ia melarikan ajimat Kalimasada. Tak ada yang dapat mengalahkannya selain Gareng.

Keterangan tentang ular naga Jawa:

Ular naga bagi petani Jawa adalah makhluk yang dianggap sacral, ular naga ini adalah jelmaan Dewi Sri yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma dalam bentuk ular sawah. Hal ini tertulis dalam serat babad ila-ila disebutkan: Dewi Sri dan Raden Sadhana adalah kakak beradik. Karena mereka tidak mau tinggal di kraton, maka oleh ayahanda nya Prabu Purwacarita meraka dikutuk, Dewi Sri, menjadi ular sawah, dan Raden Sadhana menjadi burung Sriti kemudian mereka pergi entah ke mana.

Perjalaanan Dewi Sri atau ular sawah lebih banyak halangan daripada Redan Sadhana sebagai burung Sriti. Akhirnya ular sawah sampai di negeri Wirata, berhenti sebentar di dusun Wasutira lalu tidur melingkar di tengah-tengah padi. Di dusun Wasutira inilah ular sawah diletakkan di petanen. Ular sawah itu nantinya akan menjaga bayi yang dikandung oleh Ken Sanggi atau istri dari Kyai Brikhu, sebab bayi yang dikandung itu adalah titisan Dewi Tiksnawati. Apabila ular itu mati , maka bayi itu juga akan mati. Demikianlah pada malam hari Ken Sanggi melahirkan anak perempuan dengan selamat.

Maka Kyai Brikhu dalam memelihara ular sawah itu sangat berhati-hati jangan sampai mati. Sewaktu Kyai Brikhu tertidur , ular sawah itu seakan-akan berkata agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus. Setelah kyai Brikhu terbangun dari tidur langsung menyiapkan sesaji seperti apa yang diminta ular sawa tadi. Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh bayi itu membuat huru hara di SBY, tempat kediaman dewa-dewa karena Dewi Tiksnawati tanpa memberi tahu atau ijin dari Sang Hyang Jagadnata.

Sang Hyang Jagadnata menjadi murka dan mengutus para dewa untuk memberi bancana pada sang Bayi. Akan tetapi gagal karena kena pengaruh tolak bala yang diberi kan Kyai Brikhu dari Ular sawa tadi. Setelah beberapa kali gagal tahulah Sang Hyang Jagadnata bahwa semua itu berasal dari Dewi Sri. Kemudian Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru mengutus para bidadari untuk memanggil Dewi Sri. Dia akan dijadikan bidadari untuk melengkapi bidadari yang ada dikhayangan. permintaan Sang Hyang Jagadnata diterima oleh Dewi Sri, akan tetapi ia mohon agar Raden Sadhana yang dikutuk menjadi burung Sriti agar dapat diruwat menjadi manusia kembali.

Ternyata Raden Sadhana telah diruwat menjadi manusia oleh Bagawan Brahmana Marhaesi putra dari Sang Hyang Brahma. Kemudian Raden Sadhana dikawinkan dengan putri yang bernama Dewi Laksmitawahni. Apabila telah berputra, Raden Sadhana akan diangkat menjadi dewa. Kemudian ular sawa diruwat menjadi Dewi Sri kembali oleh para bidadari.

Sepeninggal para bidadari, Kyai Brikhu ketika tengah membersihkan petanen terkejut melihat ular sawa lenyap. Yang ada hanya seorang wanita cantik. Kyai Brikhu akhirnya tau bahwa Dewi Sri adalah putri dari Prabu Mahapunggung dinegeri Purwacarita. Sebelum Dewi Sri meninggalkan Kyai Brikhu dan keluarganya dia berpesan agar memberikan sesajen didepan petanen atau kamar tengah agar sandang pangannya tercukupi.setelah itu Dewi Sri moksa dan juga Raden Sadhana kembali ke khayangan.

Oleh karena itu pada setiap pada sethong tengah pada rumah Jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan, yaitu Dewi Sri yang memberikan kemakmuran. Para petani apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah dijadikan pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik atau banyak rejeki.

Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan memberi sesaji.

Ikan-Naga

Naga adalah salah satu lambang dari keduabelas shio yang ada dalam penanggalan Tionghoa. Naga sebagai mahluk yang mempunyai karma baik dan telah mencapai pembinaan kehidupan spiritual tahap tertentu, karena mereka telah melatih pembinaan spiritual yang sangat lama. Pencapaian spiritual yang lama ini menjadikan kaum naga memperoleh berkah dan kedudukan yang terhormat.

Di Indonesia, Ikan-Naga ini banyak dijumpai di daerah pantai selatan pulau jawa, karena berkah yang dimiliki Ikan-Naga ini maka banyak penduduk setempat menghormati Ikan-Naga agar dapat diberikan hasil ikan yang berlimpah dan bebas dari wabah penyakit menular.

Ikan-Naga yang melanjutkan meditasi selama 500 tahun hingga 1000 tahun, akan berubah menjadi Naga Tanpa Tanduk. Seluruh tubuhnya sempurna menjadi naga, dengan warna yang menyerupai biru kehijauan.

Walaupun ada juga yang telah mempunyai tanduk, tetapi tanduk dikepalanya masih sangat kecil sekali.

Naga tanpa tanduk ini banyak di jumpai dalam hiasan kerajaan-kerajaan di tanah jawa pada masa lampau. Dimana energi yang terpancar dari naga tanpa tanduk dapat menambah pamor dan wibawa dari tempat yang di diaminya.

Maksud dari kemasan Teh Goro-goro mengambil ilustrasi naga pada kemasannya memiliki tujuan sesuai dengan arti dari naga yang memiliki karma baik dan membawa berkah bagi produsen Teh Goro-goro disamping untuk menggabungkan budaya Tionghoa dan budaya Jawa.

definisi goro-goro dalam cerita wayang kulit

Pada pagelaran wayang, ada scene yang namanya goro-goro yang menampilkan punakawan sebagai selingan dari konflik-konflik pada babak sebelumnya.

Setelah sekian jam disuguhi segala macam konflik, maka yang sangat ditunggu-tunggu penonton wayang adalah goro-goro. Babak ini jadi semacam ritus pembukaan katub ketegangan yang berkumpul pada babak-babak sebelumnya. Ketegangan yang dimaksud bisa merupakan ketegangan-ketegangan dalam lakon wayang ini sendiri, bisa juga berasal dari proses pementasan itu sendiri.

Juga dalam babak ini semua tokoh yang telibat dalam pementasan (termasuk penonton) mendapat citra pembebasan. Sudah pasti salah satunya adalah pembebasan dari ketegangan psikologis. Alat yang dipakai dalam goro-goro sebagai pembawa citra pembebasan adalah kritik. Bahkan boleh jadi kritik bukan lagi sejenis alat yang ‘sunnah’ dalam goro-goro, melainkan ‘wajib’ hukumnya. Ini wajar saja. Sebab secara fenomenologis kritik merupakan satu-satunya kegiatan manusia yang dilakukan selalu dengan tujuan progresif.

Tanpa kritik, manusia menyentuh titik absurd hidupnya. Sebagai pelepas ketegangan, kritik dalam goro-goro mendapat pulasan yang khas. Kritik diberi nuansa tawa yang agak dominan. Seseriua apapun sebuah kritik dalam babak tersebut sangat jarang mampu membuat muka merah padam karena amarah. Segala kritik terlontar masuk ke dalam suasana gembira dan bercanda.

Kritik gaya goro-goro muncul dari dan ke sikap lapang dada. Oleh karenanya banyak orang di republik ini sepakat untuk menjadikan goro-goro sebagai patron bentuk penyampaian kritik yang layak kultural dalam kehidupan sosial politik. Goro-goro menyajikan kritik yang tahu tata rama, bukan kritik asal pedas.

Bisa dibayangkan, apa jadinya jagat pewayangan tanpa babak goro-goro? Tanpa goro-goro, bukan semat-mata berarti bahwa penonton kehilangan kesempatan untuk melepaskan ketegangan.


UNSUR-UNSUR KRITIK DESAIN

TEH GORO-GORO

A. Formalistik

Ukuran Kemasan:

21.3 cm

19.7 cm

Warna :

- Merah

- Kuning

- Hijau

- Biru

- Hitam

B. Ekspresifistik

Kemasan teh ini berkesan tradisional, dengan menggunakan warna-warna primer pada gambarnya sehingga memudahkan untuk dikenali masyarakat.

C. Instrumentalistik

Goro-goro sebagai nama produk teh ini memiliki arti ‘suatu babak dalam pewayangan’. Pada kemasan Teh Goro-goro terdapat perpaduan budaya antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Perpaduan budaya tersebut dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat pada kemasan.

Pengaruh budaya Jawa juga terlihat dari penggunaan ilustrasi empat karakter punakawa. Selain itu juga terdapat ilustrasi naga Jawa di kedua sisinya.


TAHAP-TAHAP KRITIK DESAIN TEH GORO-GORO

A. Tahap Deskripsi

Pada kemasan ini terdapat gambar Punakawan yang terdiri dari Semar, Bagong, Gareng dan Petruk. Dengan ornamen naga di kedua sisi gambar Punakawan. Terdapat gambar api di latar belakangnya, dan ada pula foto orangtua yang dikelililngi oleh tanaman di sisi lainnya. Terdapat gulungan perkamen dengan tulisan “Goro-goro” istimewa. Lalu disekeliling perkamen ini terdapat sulur-sulur tanaman.

B. Tahap Analisa Formal

Layout kemasan Teh Goro-goro hanya menggunakan warna primer seperti merah, kuning, biru, hijau, dan hitam yang sering juga dijumpai dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan untuk komposisi layout dalam kemasannya sendiri terlihat proporsoinal karena penempatan merek Goro-goro di bagian tengah. Dan tulisan Teh diletakkan di sebelah kiri atas untuk menigsi bidang kosong, sehingga seimbang antara kanan dan kiri.

C. Tahap Interpretasi

Pada kemasan Teh Goro-goro terdapat perpaduan budaya antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Perpaduan budaya tersebut dapat terlihat dari ornamen-ornamen yang terdapat pada kemasan. Pengaruh budaya Jawa dapat terlihat dari penggunaan ilustrasi empat karakter punakawan, antara lain Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Selain itu juga terdapat ilustrasi naga Jawa di kedua sisinya. Teh ini bernuansa Jawa-Tionghoa karena pendirinya adalah orang Tionghoa, yang fotonya dicantumkan pada kemasan ini.

Penggunaan gambar wayang pada kemasan Teh Goro-goro ini dikarenakan teh ini berasal dari daerah Jawa. Daerah Jawa seperti yang kita ketahui, terkenal dengan wayang.

Pada kemasan ini juga menggunakan gambar naga Jawa yang bermakna kemakmuran. Bagi orang Tionghoa, naga sendiri bermakna kekuasaan. Bahwa pendiri Teh Goro-goro ini berharap menjadi produsen teh terbesar di daerah itu.

Penggunaan warna merah dan kuning pada kemasan ini karena pengaruh dari budaya Tionghoa. Pada sekeliling tepi foto terdapat ornamen tanaman yang kami tafsirkan sebagai tanaman teh.

Penggunaan kertas sebagai bahan pembungkusnya dimaksudkan untuk menjaga kelembaban teh di dalamnya agar selalu kering. Dan dimaksudkan agar konsumen dapat langsung mencium aroma teh ini tanpa menghilangkan cita rasa teh Goro-goro ini.

D. Tahap Evaluasi

Teh Goro – Goro

Dilihat dari desainnya, kemasan Teh Goro-goro masih sangat tradisional. Namun, desain kemasan ini tidak dapat dibilang sederhana karena tergolong rumit dengan gambar yang masih ilustratif dan rumit dengan banyak detail seperti sisik naga dan motif batik pada Punakawan yang digambar dengan teliti serta penggunaan warna yang beraneka ragam. Peran dari perpaduan antara desain budaya Tionghoa dan budaya Jawa pada kemasan ini sendiri ditujukan agar teh yang asalnya dari Daratan Cina dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat Jawa. Teh Goro-goro juga memiliki sejarah yang panjang dilihat dari foto pendiri yang sudah tua.

Pembanding

1. Teh Cap Dandang

Desain kemasan Teh Cap Dandang ini sudah mengalami modernisasi walaupun hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari tipografi yang digunakan dan desainnya sendiri sudah tidak rumit. Tetapi, masih bisa dilihat kesan tradisional dari kemasan yang digunakan, yaitu bungkusannya yang masih terbuat dari kertas. Desain yang sudah modern dan universal tersebut mengakibatkan meluasnya terget pasar, sehingga lebih bisa diterima oleh masyarakat. Namun, ada satu hal yang dilupakan oleh produsen Teh Cap Dandang ini, yaitu ketidaksesuaian gambar dengan mereknya. Tidak seperti Teh Goro-goro yang ilustrasinya menggambarkan arti dari Goro-goro, teh ini tidak menampilkan gambar dandang sesuai dengan mereknya, yaitu “Teh Cap Dandang”.

2. Teh Bandulan

Teh bandulan memiliki desain yang masih ilustratif seperti Teh Goro-goro. Namun dari warnanya, Teh Goro-goro memiliki lebih banyak warna daripada Teh Bandulan, yaitu enam warna. Sedangkan Teh Bandulan hanya memiliki tiga warna dengan dominasi warna putih dari kertas pembungkusnya sehingga tidak eye – cathcing. Gambarnya sendiri cukup mewakili arti dari bandulan itu sendiri. Tipografi yang digunakanpun masih sangat tradisional. Dilihat dari desainnya, target pasar dari Teh Bandulan ini yaitu menengah ke bawah dengan rentang usia 20 sampai 30 tahunan.


KESIMPULAN

Teh Goro–goro dibandingkan dengan dua pesaingnya, Teh Cap Dandang dan Teh Bandulan, meiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri dalam desainnya.

Kelebihan desain Teh Goro-goro:

· Desainnya tradisional namun bagus dan ada kesan tersendiri dalam desain tersebut.

· Ilustrasinya bagus dengan detail – detail yang menarik dan terlihat jelas.

· Meskipun warna yang digunakan adalah warna – warna primer, namun terkesan kuat dan memiliki keharmonisasian satu dan yang lainnya.

· Nama logo dengan ilustrasinya sesuai sehingga terkesan tidak asal dalam memilih logo.

Kekurangan desain Teh Goro-goro:

· Ilustrasinya terlalu ramai.

· Ada beberapa gambar yang sulit dimengerti oleh masyarakat awam.

· Design kemasannya kurang komersil.

Secara keseluruhan, teh Goro-goro ini mempunyai campuran budaya yang kental sekali antara budaya Cina dan Jawa. Terlihat pada gambar ilustrasi kemasannya yang menggabungkan kedua unsur budaya tersebut.

Tujuan produsen teh ini menggunakan ilustrasi naga adalah untuk menggambarkan bahwa produsen ini berupaya untuk menjadi produsen terkuat dan terbesar di daerah Pekalongan.

Alasan adanya perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa pada ilustrasi kemasan teh Goro-goro ini bertujuan untuk memasarkan teh yang pada awalnya berasal dari Cina, kepada masyarakat Indonesia, terutama di daerah Jawa. Dimaksudkan agar masyarakat Indonesia familiar dengan produk ini.


DAFTAR PUSTAKA

Adityawan S., Arief., Tinjauan Desain: Dari Revolusi Industri Hingga Posmoderen, Jakarta: Universitas Tarumanagara UPT Penerbitan, 1999

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pekalongan

http://www.sosro.com/indonesia/sejarah_teh.htm

www.kotapekalongan.go.id

http://warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=1

http://www.soulcast.com/post/show/5212/Dewi-SRI—dewi-kesuburan

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Wayang/contents/punakawan.htm

Constructivism

Berkembang sekitar tahun 1914 hingga 1920, merupakan pengaruh Kubisme yang berkembang di Rusia. Estetika menurut seniman Konstruktivisme berkaitan dengan bentuk atau bidang geometris kinetic, sebagai sebuah cerminan zaman modern yang dikuasai oleh mesin. Konstruktivisme ditemukan oleh pemahat dan pelukis Rusia, Vladimir Tatlin. Nama itu diturunkan dari “konstruksi” pada pemahat-pemahat abstrak dari material-material industri, seperti metal, jaringan, dan bagian dari plastic. Pembangunan relief Tatlin dari 1913 sampai 1917 merupakan pekerjaan pergerakan pertama. Ia telah bergabung sebelum 1920 dengan seniman-seniman Aleksandr Rodchenko, El Lissitzky, Naum Gabo, dan Antoine Pevsner, dan lainnya.

Walaupun pergerakannya terbagi menjadi beberapa bagian di bahun 1920 an, secara keseluruhan idenya terdiri dari abstrak, fungsionalisme, dan utilitarianisme. Utilitarianisme, perilaku dominant seni pada saat Union of Soviet Socialist Republics (USSR) baru lahir, yang membuat seni lebih mudah dimengerti dan berguna bagi masyarakat.

Menurut El Lissitzky, bidang persegi empat adalah sumber dari segala ekspresi kreatif. Para seniman konstruktivisme adalah pelopor pembaruan (Russian Avant-garde) seni Rusia. Seni harus dinikmati oleh semua kelas masyarakat secara merata. Tidak boleh ada perbedaan seni kelas atas (kaum borjuis) maupun untuk kelas bawah (kaum proletar). Konstruktivisme adalah seni resmi untuk pemerintahan Bolshevik di Rusia. Konstruktivisme bersama Futurisme den De Stjil banyak mempengaruhi desain grafis ketika seniman-seniman aliran tersebut mengajar di sekolah Bauhaus. El Lissitzky juga banyak berekperimen dengan fotogram, (“memotret tanpa kamera” yaitu mengolah cahaya pada kertas foto di kamar gelap).

referensi:
Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.
Adityawan.s, arief, tinjauan desain dari revolusi industri hingga posmoderen, jakarta, Universitas tarumanagara UPT penerbitan, 1999, hal 39.

de stijl

De Stijl atau dalam Bahasa Inggris The Style adalah gerakan seni di sekitar tahun 1920an. Konsep ini berkembang seiring terjadinya perang dunia pertama yang berlarut-larut. Komunitas seni De Stijl kemudian berusaha memenuhi keinginan masyarakat dunia mengenai sistem keharmonisan baru di dalam seni.

De Stijl adalah nama dari sebuah majalah seni di belanda. Tokoh utama pendirinya adalah Piet Mondrian. De stijl adalah aliran seni yg tidak representasional, tidak ilustratif ataupun naratif. De Stijl menggunakan bentuk-bentuk geometris dengan susunan konstruksi yang sangat teknis. Dilihat dari bentuknya yang demikian de stijl dapat disebut sebagai bagian dari aliran atau gerakan seni eropa yang dinamakan konstruktivisme.

Pada awalnya Mondrian banyak dipengaruhi oleh kubisme-nya Picasso. Namun kubisme tidak mengembangkan abstraksi secara optimal sebagaimana yang diinginkan oleh Mondrian : “the expression of pure reality” (Fachereau, 1994:20). Ini yang menyebabkan Mondrian mengembangkan sendiri abstarksi dengan menghilangkan berbagai garis lengkung sehingga tersisa garis vertikal dan horisontal. Gaya ini disebut sebagai neo-plastisisme.

Komposisi visual disederhanakan menjadi hanya bidang dan garis dalam arah horisontal dan vertikal, dengan menggunakan warna-warna primer seperti merah, biru, dan kuning di samping bantuan warna hitam dan putih.

Pada dasarnya aliran De Stijl hanya bergerak dalam dunia lukis. Sebab bagaimanapun konsep De Stijl adalah abstraksi secara ideal komposisi warna dalam bentuk dua dimensi, walaupun kemudian juga menghasilkan kesan ruang. Pemanfaatannya sangat banyak di dalam interior dan arsitekrur. namun seperti yang ditulis oleh Piet Mondrian bahwa De Stijl tetaplah sebuah konsep ideal dalam dua dimensi. Meskipun Theo van Doesburg berusaha keras memperjuangkan pengaplikasiannya dalam dunia arsitektur, De Stijl tetaplah hanya menjadi bahan pertimbangan dalam pengolahan bidang-bidang warna, bukan arsitekturnya sendiri.

De Stijl meredup seiring perpecahan di antara Theo van Doesburg yang aplikatif dan Piet Mondrian yang teoritis. Hingga akhirnya majalah De Stijl terakhir kali terbit untuk mengenang kematian Theo van Doesburg.

Seniman yang terlibat dalam gerakan De Stijl :
Piet Mondrian (1872 – 1944)
Theo van Doesburg (1883 – 1931)
Ilya Bolotowsky (1907 – 1981)
Marlow Moss (1890 – 1958)
Amédée Ozenfant (1886 – 1966)
Max Bill (1908 – 1994)
Jean Gorin (1899 – 1981)
Burgoyne Diller (1906 – 1965)
Georges Vantongerloo (1886 – 1965)
Gerrit Rietveld (1888 – 1964)
Bart van der Leck (1876 – 1958)

referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/De_Stijl

http://www.tipsdesain.com/sejarah.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Modernisme

http://en.wikipedia.org/wiki/De_Stijl

Adityawan, Arief, Tinjauan Desain dari revolusi industri hingga post modern, Jakarta, Universitas Tarumanagara UPT penerbitan, 1999, 45-46.

Idioms in Post-modern Art

1. Patische

Patische adalah penciptaan karya-karya yang disusun dari elemen-elemen yang dipinjam dari karya lain dari masa lalu(dulunya istilah ini khusus dalam sastra). Konotasinya negatif, sebagai miskin kreativitas, miskin orisinalitas, juga dalam ketentuan dan kebebasannya. Patische bersifat imitasi murni tanpa presentasi apa-apa. Patische menitu karya-karya masa lalu dalam rangka mengangkat dan mengapresiasinya. Beda antara karya Patische dan yang ditiru justru pada persamaannya.

2. Parodi

Parodi adalah bentuk dialog antara dua wacana/teks(dalam hal ini karya). Tujuan parodi adalah untuk mengekspresikan rasa tidak puas, tidak senang, ataupun kritik terhadap karya yang dirujuknya. Pada jaman modernisme, segala sesuatu harus memiliki fungsi, harus teratur, sistematis. Pada zaman post modern, semua yang serba teratur ditolak karena dianggap menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang penuh dengan perasaan. maka itu muncul parodi, yaitu upaya post modern untuk menertawakan hal-hal yang dianggap wajar oleh sistem yang berlaku. Parodi bukan merupakan imitasi murni, melainkan suatu imitasi ironik. yang diungkapkan adalah kritik dan perbedaan-perbedaan dengan karya rujukannya.

3. Kitsch

Istilah Kitsch berasal dari dari bahasa Jerman, Verkitschen, yang berarti membuat barang murahan dan Kitschen yang berarti memungut sampah di jalan. Kitsch sering diartikan sebagai sampah artistik atau selera rendah(bad taste). Dalam kamus, kistch diartikan segala jenis seni palsu(pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. Kitsch merupakan bentuk imitasi dan reproduksi seni tingkat tinggi serta upaya memasarkan seni tingkat tinggi ke masyarakat luas.

Cara-cara suatu karya menjadi kitsch:

a. Pengalihan suatu elemen dalam karya dari status dan konteks asalnya, sebagai seni tinggi dan digunakan dengan status dan konteks baru sebagai kebudayaan massa. Contoh: handuk bergambar Monalisa, teko berbentuk patung Rodin, dsb.

b. Peminjaman elemen-elemen tertentu dari barang konsumer, yang dilepaskan dari konteks dan status asalnya sebagai produk massa, ke dalam konteks dan status sebagai seni tinggi. Contoh: patung ikonik Coca-cola, bangunan ikonik berbentuk sepatu, dsb.

c. Imitasi bahan yaitu menggunakan bahan tiruan untuk memberi efek dan kesan bahan alamiah. Contoh: meja yang dilapisi vener serat kayu, patung miniatur Beethoven dari bahan plastik, dsb.

d. Transformasi dan idolisasi ikon, simbol, atau lambang dari objek-objek sub-kultur dan objek kultus menjadi objek seni dan barang konsumer. Contoh: patung miniatur Yesus, simbol-simbol klub olahraga, dsb.

e.Objektivikasi Mitos, yaitu pengabadian objek atau tokoh-tokoh mitos ke dalam bentuk seni atau barang konsumer. Contoh: Einstein, John Lennon, Marylin Monroe, dsb.

4. Camp

Camp diartikan sebagai model estetisme, suatu cara melihat dunia sebagai fenomena estetik namun bukan dalam pengertian keindahan atau keharmonisan, melainkan dalam pengertian keartifisialan dan penggayaan. Estetisisme macam ini adalah semacam pemberontakkan menentang gaya elit kebudayaan tinggi. Camp tidak tertarik pada sesuatu yang otentik dan orisinil, melainkan lebih tertarik pada duplikasi dari apa-apa yang telah ditemukan, untuk tujuan dan kepentingannya sendiri. Ia menghasilkan sesuatu dari apa yang tersedia. Bahan bakunya adalah kehidupan sehari-hari, tepatnya fragmen-fragmen dari realitas kehidupan nyata: Marylin Monroe, seragam militer, yang didistorsi sedemikian rupa sehingga tidak lagi menjadi dirinya sendiri.

5. Narasi kecil

Dalam filsafat, Jean Francois Lyotard mengartikan post modern sebagai ketidapercayaan terhadap segala pemikiran, referensi atau narasi besar, yaitu suatu bentuk pemikiran yang menguasai secara totaliter. Misalnya, pemikiran / narasi besar yang totaliter dari Marxis maupun liberalisme / kapitalisme (narasi besar). Di era post modern muncul isu-isu yang lebih khusus misalnya, isu lingkungan hidup, isu feminisme, isu persamaan hak bagi kaum lesbian dan gay, isu etnografi dan lintas budaya, dan seterusnya.

6. Dekonstruksi

Modernisme percaya pada keteraturan, formalisme yang rasional. Untuk menolak itu sebagian dari pemikir post modern memunculkan konsep dekonstruksi. Meniadakan bangunan atau tatanan sosial budaya yang dibangun secara rasional oleh pemikiran modernisme. namun ada sebagian pemikir post modern yang percaya bahwa pemikiran modernisme dapat diperbaiki sebagian demi sebagian, tanpa harus menolak keseluruhan.

POST MODERN

Istilah post modern pertama kali digunakan oleh ahli sejarah Toynbee di tahun 1875. Toynbee memunculkan istilah post modern untuk menjelaskan berakhirnya dominasi barat, dan berkembangnya budaya non barat. Secara sederhana, definisi dari post modern adalah sebuah pemikiran yang mengkritik pandangan modernisme melalui cara pandang yang cenderung pada keanekaragaman, bukan homogenitas, pada kejenakaan bukan serius, cenderung pada berantakan daripada bersih, cenderung pada penggambaran (picturesque) walaupun terkadang juga memiliki keteraturan geometris.

Ketidakpercayaan pada modernisme berangkat dari kekecewaan akibat berbagai bencana (perang dunia, perang vietnam, dll) dan ketimpangan sosial ekonomi dan budaya internasional. Rasionalisme sebagai dasar utama dari modernisme dianggap tak mampu selesaikan berbagai permasalahan. Oleh karena itu muncul upaya menemukan alternatif pemikiran spiritual dan menghidupkan kembali nilai-nilai agama (revitalisasi) maupun kepercayaan yang bersifat positif maupun negatif.

Ketidapercayaan pada modernisme kemudian menyatu dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. Keanekaragaman visual dan budaya dunia yang kompleks dipadukan dengan teknologi komputer dan elektronik menghasilkan era desain grafis yang majemuk dan gegap gempita-terjadi sebuah diskursus (wacana) global dalam desain. ‘Mengecilnya’ dunia inilah yang disebut Marshall Mcluhan sebagai global village (kampung dunia). Charles Jencks menjelaskan post modern sebagai gaya percampuran yang berkaitan dengan:

  • ingatan kesejarahan (terutama dalam arsitektur)
  • permasalahan setempat / lokal
  • metafora dan ambiguitas

Beberapa konsep

Ciri-ciri seni post modern:

1. Post modern adalah gerakan budaya:

  • dimulai oleh seniman dan arsitektur di NY, USA tahun 1960an
  • kemudian menjalar ke Eropa tahun 1970, diawali oleh pemikir-pemikir Perancis.

2. Hilangnya batas antara seni dan kehidupan sehari-hari, karena seni tidak lagi bercerita, melainkan mengeksplorasi hakekat realitas.

a. membuat karya-karya eksperimental

b. percaya pada keterpecahan jiwa manusia

c. musik dianggap bergerak dalam waktu

d. waktu dianggap bersifat dinamis

e. ruang dianggap bersifat statis

f. tradisi-tradisi lama dimunculkan kembali

3. Kebudayaan dan kesenian elit dihilangkan jaraknya dengan kebudayaan dan kesenian populer.

4. Semua yang dibicarakan oleh post modern adalah non seni, tetapi kemudian bisa diterapkan pada seni, karena tidak ada batas-batas antara seni dan non seni.

5. Karya seni dianggap daur ulang saja yang sifatnya eklektis (campuran) antara barat dan timur.

6. Kedalaman pemikiran tidak dipentingkan lagi, cukup pemikiran dangkal saja.

7. Realitas bisa dipindahkan ke image, jadi yang penting adalah image / kesan.

8. Bentuk dan gaya lebih penting daripada isi / kualitas seni.

Jakarta 32′s PhotoS

Pameran Jakarta 32 derajat Celcius

Ke Depan Tiga Langkah

Restu Ratnaningtyas
Koordinator Artistik Jakarta 32oC-2008

Dalam pameran mahasiswa Jakarta 32oC yang ketiga ini jumlah karya yang masuk sebelum melewati proses seleksi adalah 173 karya, oleh mahasiswa yang berasal dari 16 perguruan tinggi Jakarta. Dan karya yang lolos seleksi adalah 40 karya, terdiri dari lukisan, patung, fotografi, desain grafis, grafis murni, instalasi, video.

Berbicara tentang Jakarta, pasti pikiran kita akan langsung tertuju pada masalah universal yang terjadi di kota-kota besar pada umumnya, seperti: kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk, kebersihan lingkungan, sistem pemerintahan, konsumerisme, kemiskinan, kriminalitas dan sebagainya. Seringkali ketika melihat sebuah karya mengenai kota Jakarta, saya merasa seperti dihadapkan kepada sebuah halaman depan surat kabar metropolitan. Akan tetapi dalam pameran Jakarta 32oC pada kali ini karya-karya yang ditampilkan adalah karya yang lebih bersifat personal, yang kemudian dibagi kedalam empat subtema yaitu: ruang, identitas, sejarah, dan budaya massa.

Dalam proses kurasi oleh tim artistik, apek penilaian karya dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu: visual, teknik, dan tema. Banyak karya yang menarik secara visual tetapi lemah dalam konsep dan keterkaitannya dengan tema Jakarta atau sebaliknya; ide tema menarik namun lemah secara teknis dan visual. Beberapa mahasiswa yang karyanya tidak lolos dalam pengkurasian tetapi memiliki potensi, diundang untuk ikut serta dalam program workshop.

Dalam pameran Jakarta 32oC kali ini, identitas merupakan tema yang paling banyak diangkat dalam karya-karya yang dipamerkan kali ini. Tema identitas selalu menarik untuk dibahas dalam sebuah karya dan seakan tidak akan pernah ada habisnya. Baik mencakup masalah identitas personal maupun identitas kelompok.

Hanya ada dua karya dalam pameran Jakarta 32oC yang mengangkat tema sejarah dan semua berupa karya video mengenai tokoh musik dalam sejarah. Padahal berbicara mengenai sejarah sangat banyak hal menarik di Jakarta yang dapat dijadikan ide untuk membuat sebuah karya, terutama menyangkut kisah hidup seseorang secara personal.

Masalah ruang yang diangkat oleh sebagian besar karya adalah mengenai semakin berkurangnya ruang untuk bergerak babas dengan nyaman di Jakarta pada saat ini. Bahwa tidak mudah mendapatkan ruang yang nyaman apalagi dengan gratis. Oleh sebab itu banyak ruang-ruang di Jakarta yang kemudian mengalami disfungsi dan multifungsi, seperti: halte yang juga menjadi tempat tinggal, mini market 24 jam yang menjadi tempat tongkrongan anak muda, trotoar yang menjadi tempat berdagang kaki lima, jalanan dan taman kota yang pada waktu malam menjadi tempat prostitusi, dan sebagainya. Jakarta adalah kota metropolis yang semua aktivitasnya berlangsung secara cepat, sehingga banyak ruang-ruang yang sifatnya sementara/temporer dan ruang-ruang transit. Beberapa karya lain membicarakan ruang dengan menggunakan media ruang itu sendiri. Mengkritisi sistem tata kota dengan merespon ruang sehingga ruang tersebut menjadi sebuah subjek sekaligus objek. Terlihat seperti bermain-main, namun jika ditelusuri lebih dalam maka masalah yang diangkat sebenarnya amat luas.

Cara penyebaran karya di ruang publik dan bersifat massal telah mengembangkan pemahaman masyarakat akan media seni alternatif di ruang publik juga menguatkan keterikatan perupa dengan medium beserta ruang yang digunakan yaitu kota.

Semua tema ini kemudioan menjadi saling erat keterkaitannya, terutama denga budaya massa. Sebuah subkultur yang sudah lama ada di Jakartadan kini semakin bermunculan di tengah aktivitas kota Jakarta. Salah satunya adalah kelompok/komunitas seni rupa yang lahir di wilayah kampus. Adalah fakta yang terjadi bahwa semua komunitas/kelompok yang melakukan kegiatan tersebut bukan terbentuk akibat aktivitas akademik di dalam infrastruktur kampus, melainkan karena nongkrong-nongkrong di sekitar kampus. Tidak banyak perkembangan yang terjadi di dalam sistem pendidikan dalam wilayah kampus khususnya dalam wilayah seni rupa (khususnya di Jakarta).

Dan banyak sekali komunitas berkesenian yang menunjukkan eksistensinya meramaikan hingga mengadakan event-event seni rupa. Seperti kelompok-kelompok street art, baik yang bermain dengan media graffiti, stensil, stiker dan poster. Saat ini juga ada beberapa produk yang melakukan promosinya bekerjasama dengan seniman street art hingga membuat produk featuring seniman. Seni Rupa kini menjadi tidak terlalu eksklusif, terutama ketika sebuah karya seni diproduksi secara massal dan diletakkan di ruang publik.

Terdapat 8 seniman muda ibukota yang turut serta dalam presentasi khusus; sebuah program yang selalu ada dalam event Jakarta 32oC. Hampir semua seniman yang diundang dalam program ini pernah terlibat dalam forum Jakarta 32oC sebelumnya. Senimantersebut dipilih dengan pertimbangan kualitas karya, medium yang digunakan dalam membuat karya dan intensitas mereka dalam berkesenian.

Percepatan arus informasi dan kemajuan teknologi telah menyebabkan terciptanya kultur global dan dengan didukung oleh kemajuan teknologi, sebuah karya dapat diperbanyak secara massive dan kemudian disebarkan melalui ruang-ruang publik di kota besar maupun ruang-ruang maya (website/blog). Terjadi perubahan pola pikir yang mempengaruhi proses dalam pembuatan karya, pencarian ide, maupun cara penyampaian karya. Inilah realitas yang sedang terjadi. Masyarakat adalah produk dari suatu zaman, yang selalu beradaptasi mengikuti habitatnya.

Jakarta 32 derajat Celcius

Pengantar Jakarta 32oC 2008

Indra Ameng
Project Officer Jakarta 32oC-2008

Untuk ketiga kalinya, ruangrupa bekerjasama dengan rekan-rekan seniman muda ibukota yang tergabung dalam komplotan Jakarta 32oC menyelenggarakan project JAKARTA 32oC, sebuah project seni yang bertujuan sebagai forum pertemuan antar mahasiswa di Jakarta dan untuk menampilkan karya-karya visual terbaru mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta kepada khayalak luas. Jakarta 32oC adalah sebuah pameran besar bagi karya-karya mahasiswa di Jakarta, yang diselenggarakan dua tahun sekali pada tahun genap sejak tahun 2004, yang diawali dengan mengadakan road show ke berbagai kampus, pengkoleksian karya mahasiswa, pendataan karya, forum presentasi, pertemuan, diskusi dan penyeleksian karya. Program dalam project tahun ini meliputi: pameran, pemutaran film dan video, workshop, diskusi, dan pemberian penghargaan untuk 5 karya terbaik.

Dalam konteks organisasi seni, ruangrupa sebagai sebuah organisasi seni telah melakukan kerja mediasi (produksi/kolaborasi/eksperimentasi kreatif), diseminasi (promosi/publikasi/penerbitan), serta telaah/ dokumentasi terhadap perkembangan seni rupa dan fenomena budaya visual selama 8 tahun sejak didirikan pada tahun 2000. Keseluruhan program kerja ini dilakukan secara intens oleh ruangrupa untuk mendukung perkembangan seni rupa Indonesia dan lebih jauh menjadikan praktek seni/kreatif sebagai sebuah praktek budaya yang kritis, edukatif dan inspiratif bagi publik.

Jakarta 32oC merupakan salah satu project seni yang merupakan bagian dari program kerja disminasi yang berfokus pada menemukan/menghasilkan, mendukung dan mempromosikan serta menyebarkan karya-karya dan gagasan kreatif seniman muda melalui pameran dengan kuratorial selektif tertentu kepada khalayak luas. Selain itu juga menjaga keberlanjutan gagasan kreatif serta potensi dari seniman muda. Yang mana potensi ini dapat terus menerus didorong dan ditumbuhkembangkan, bukan hanya melulu demi pencapaian-pencapaian artistik yang lebih baik, tapi juga gagasan-gagasan tajam yang dapat memperkaya dan memperluas pandangan kita dalam melihat lingkungan, ruang, identitas, keseharian, dan lain-lain, dengan cara yang berbeda.

Untuk itu, berbeda dari 2 kali penyelenggaraan sebelumnya, kali ini kami membuat tema khusus pada project Jakarta 32oC – 2008, yaitu karya-karya bertemakan situasi sehari-hari, yang berhubungan dengan permasalahan sosial dan budaya, juga interaksi dengan lingkungan, dan masyarakat sekitar, khususnya kota Jakarta sekarang. Melalui tema khusus ini,kami “memancing” mahasiswa untuk berani menyatakan pendapatnya, memberikan kritik, menawarkan gagasan-gagasan segar, ataupun membicarakan permasalahan sosial budaya sehari-hari yang dekat dengan lingkungannya, melalui karya visual dari sudut pandang personal anak muda.

Lewat karya-karya seniman muda ini, menarik untuk disaksikan bagaiman mereka memiliki kecenderungan untuk membawa “dunianya” dan “kesenangannya” ke dalam karyanya. Ketertarikan anak muda akan budaya pop seperti film, musik, desain, fashion, subkultur dan lain-lain, banyak mempengaruhi karya mereka. Pameran ini diharapkan dapat memperlihatkan perkembangan visual terbaru dari karya mahasiswa, juga sekaligus dapat memperlihatkan fenomena budaya populer masa kini.

Dalam Jakarta 32oC-2008, juga untuk pertama kalinya kami memberikan Penghargaan Khusus bagi 5 karya terbaik. Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kepada seniman muda atas pencapaian kreatifnya. Proses seleksi 5 karya terbaik ini dilakukan oleh Tim Juri Jakarta 32oC. Selain penghargaan, 5 karya Terbaik akan dipamerkan di 3 kota: Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Penghargaan Khusus ini akan diberikan pada saat penutupan pameran.

art nouveau

Art Nouveau adalah sebuah gaya seni internasional yang mencakup seni, arsitektur bangunan, dan desain, yang mencapai kepopularitasan pada abad 20. karakteristik yang menonjol pada gaya art nouveau adalah sangat berdekorasi tinggi, bergelombang, yang seringkali digambarkan dengan lekuk bentuk kurva bunga yang meliuk-liuk atau motif tumbuhan lain. Nama art nouveau sendiri berasal dari atau diambil dari nama sebuah toko di Paris, Maison de’l Art Nouveau, yang dibuka pada tahun 1895 oleh Siegfried Bing.

aliran ini menggunakan beberapa nama sebagai berikut.
• Di Jerman : Jugendstil (gaya muda) dari nama sebuah majalah Die Jugend.
• Di Austria : Vinna Secession
• Di Italia : Stile Liberty
• Di Spanyol : Modernista
• Di Inggris : Glassgow School

Pada dasarnya, aliran ini muncul sebagai sebuah reaksi terhadap industrialisasi dan gaya mesin yg dianggap menghilangkan sifat manusiawi dalam seni dan pembuatan barang-barang kebutuhan manusia. Oleh karena itu, ukiran dan uliran flora yang dibuat juga cenderung tampil berlebihan untuk menekankan keterampilan yang sifatnya sangat emosional.

Gaya art nouveau mengalami puncak kejayaannya pada tahun 1890-1905. Salah satu lukisan pertama yang terinspirasi dari gaya art nouveau ini terdapat di Roquetaillade castle. Lukisan Viollet le-Duc ini disimpan di puri tersebut pada tahun 1850, dan walaupun pada awal pembuatannya dimaksudkan untuk kebangkitan gaya gothic, tapi lukisan ini adalah merupakan contoh murni atau contoh awal gaya art nouveau – alur tumbuhan dan warna.

Gerakan pertama atau karya art nouveau pertama di tahun 1880 adalah desain cover buku Arthur Mackmurdo, yang menggunakan pengerjaan tangan full, yang diterbitkan pada tahun 1883.

Tokoh-tokohnya adalah Charles Rennie Mackintosh (Inggris), Henry Van de Velde (Austria), seorang arsitek Antoni Gaudi (Spanyol). Gaya art Nouveau pada awalnya dimaksud sebagai sebuah seni yang dapat dinikmati oleh orang kebanyakan (popular art) namun dalam kenyataannya lebih banyak diterapkan dalam seni dan barang-barang untuk konsumsi orang-orang kaya.

Para seniman pada saat itu hanya mementingkan daya tarik estetis, misalnya dengan cara menampilkan figur wanita. Selain Cherret, seniman lainnya adalah Piere Bonnard, Henri de Toulouse-Lautrec. Pada saat art nouveau berkembang, gaya poster dipengaruhi oleh ornamen-ornamen floral tersebut. Misalnya poster untuk rokok job, karya seniman Cekoslovakia Alpons Mucha. Pengaruh art nouveau terlihat dari poster yang dipenuhi oleh ornamen flora dan tanpa dimensi ruang, gambar bersifat datar. Secara keseluruhan gaya art nouveau itu memperlihatkan desain yang memiliki perpaduan gambar, tipografi, dan ornamen dekoratif yang berirama.

Referensi:
Adityawan, Arief, Tinjauan Desain dari revolusi industri hingga post modern, Jakarta, Universitas Tarumanagara UPT penerbitan, 1999, 15-17.
art nouveau@wikipedia.org

futurisme

Futurisme dari bahasa Perancis, futur atau bahasa Inggris, future yang keduanya berarti “masa depan” adalah:
1. sebuah ilmu yang mempelajari masa depan
2. aliran seni yang avant-garde, atau sebelum masanya, terutama pada tahun 1909 Masehi
3. pandangan yang lebih mementingkan masa depan.

Futurisme adalah aliran seni yang mendukung perkembangan tipografi sebagai unsure ekspresi dalam desain. Artinya, dalam futurisme huruf tidak hanya diperlakukan sebagai tanda bunyi tetapi juga sebagai lambang rupa untuk menyampaikan suatu makna. Hal ini disebabkan karena banyak penyair futurisme yang memanfaatkan tipografi sebagai bagian dari ungkapan perasaannya dalam berpuisi.
Para futuris mengeksplorasi setiap bagian dari seni, termasuk lukisan, patung, puisi, teater, musik, arsitektur, bahkan gastronomi. Pujangga Italia, Filipo Tommaso Marinetti, adalah yang pertama diantara mereka yang menghasilkan sebuah manifesto pada filosofi artistik.

Polemik Marinetti dengan segera menarik dukungan para pelukis Milanese seperti Umberto Boccioni, Carlo Carra, dan Luigi Russolo yang ingin merealisasikan ide-ide Marinetti ke dalam suatu bentuk seni visual. Pelukis Giacomo Ballaa dan Gino Severini bertemu Marinetti pada 1910 dan bersama dengan Boccioni, Carrà dan Russolo menerbitkan Manifesto of the Futurist Painters yang menggambarkan manifesto Marinetti dengan penuh kekerasan dan deklamasi.

Para pelukis futuris lambat dalam mengembangkan masalah yang berkaitan. Pada 1910 dan 1911 mereka menggunakan teknik divisionisme, memecah cahaya dan warna menjadi titik-titik dan garis-garis, yang diciptakan oleh Seurat.

Cubo Futurisme
Cubo-futurisme merupakan pusat dari futurisme di Rusia yang mendapat pengaruh dari kubisme dan berkembang di Rusia pada 1913.

Para futuris Rusia, seperti Velimir Khlebnikov, Aleksey Kruchenykh, Vladimir Mayakovsky, David Burlyuk, sangat terpukau dengan dinamisme, kecepatan, dan kehidupan urban modern yang tak pernah beristirahat. Para Futurisme Rusia cenderung ke arah literatur ketimbang gerakan artistik.

referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Futurism_%28art%29

Adityawan.s, arief, tinjauan desain dari revolusi industri hingga posmoderen, jakarta, Universitas tarumanagara UPT penerbitan, 1999, hal 39.

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.